Rabu, 13 April 2011

Biografi singkat Imam Syafi'i (bagian 1)

Imam Syafi'i adalah pendiri madzhab Syafi'i, beliau memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris As Syafi'i Al Quraisy. Beliau dilahirkan di daerah Ghazzah, Palestina pada tahun 150 Hijriah di bulan Rajab bertepatan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah pendiri madzhab Hanafi di Baghdad.




Imam Syafi'i mempelajari Ilmu Tafsir, fiqh, hadits kepada guru-guru yang banyak, yang negeri salah satu antara guru-guru Imam Syafi'i saling berjauhan. Adapun guru-guru Imam Syafi'i yaitu;


a. Guru beliau di Mekah :

1. Muslim bin Khalid az Zanji.

2. Ismail bin Qusthain.

3. Sofyan bin Ujainah.

4. Sa'ad bin Abi Salim al Qaddah.

5. Daud bin Abdurrahman al'Athar.

6. Abdulhamid bin Abdul Aziz.


b. Guru beliau di Madinah:

1. Imam Malik bin Anas (pendiri madzhab Maliki).

2. Ibrahim bin Sa'ad al Anshari.

3. Abdul 'Aziz bin Muhammad ad Darudi.

4. Ibrahim Ibnu Abi Yahay al Asaani.

5. Muhammad bin Sa'id.

6. Abdullah bin Nafi.


c. Guru beliau di Yaman:

1. Mathraf bin Mazin.

2. Hisyam bin Abu Yusuf Qadli Shan'a.

3. Umar bin Abi Salamah (pendiri madzhab Auza'i).

4. Yahya bin Hasan (pendiri madzhab Leits).


d. Guru beliau di Iraq:

1. Waki' bin Jarrah.

2. Humad bin Usamah.

3. Ismail bin Ulyah.

4. Abdul Wahab bin Hasan.

5. Muhammad bin Hasan.

6. Qadhi bin Yusuf.

Kemampuan menghafal Imam Syafi'i sangat mengagumkan, sampai-sampai seluruh kitab yang dibaca dapat dihafalnya. Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah, kemampuan beliau dalam menggubah syair dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan yang sangat tinggi oleh orang-orang alim yang sejaman dengan beliau.
Demikian tinggi prestasi keilmuan yang telah beliau capai dalam usianya yang masih sangat muda, sehingga guru-gurunya mengizinkan beliau berfatwa di Masjid al-Haram, meskipun saat itu beliau baru berumur 15 tahun.


Beliau kemudian mendirikan madzhab Syafi'i, madzhab ini menolak Istihsan dari Imam Abu Hanifah maupun Mashalih Mursalah dari Imam Malik, namun demikian madzhab Syafi'i menerima penggunaan Qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik.
Dasar-dasar Madzhab Syafi'i ini dapat dilihat dalam kitab ushul fiqh Ar-Risalah dan kitab fiqh al-Umm. Di dalam kitab tersebut Imam Syafi'i menjelaskan kerangka dan prinsip madzhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far'iyyah (yang bersifat cabang). Dasar-dasar madzhab Syafi'i yang pokok berpedoman pada hal-hal berikut, yakni;

1. Al-Qur'an,
tafsir secara lahiriah, selama tidak ada yang menegaskan bahwa yang dimaksud bukan arti lahiriahnya. Imam Syafi'i pertama sekali langsung mencari alasannya dari Al-Qur'an dalam menetapkan hukum Islam.

2. Sunnah dari Rasulullah SAW kemudian digunakan jika tidak ditemukan rujukan dari Al-Qur'an. Imam Syafi'i sangat kuat pembelaannya terhadap sunnah, sehingga beliau pun digelari Nashir As-Sunnah (Pembela Sunnah Nabi).

3. Ijma' atau kesepakatan para sahabat Rasulullah SAW, yang tidak terdapat perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Ijma' yang diterima Imam Syafi'i sebagai landasan hukum adalah Ijma' para Sahabat, bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum. Karena menurutnya hal seperti ini tidak mungkin terjadi.

4. Qiyas, yang dalam Al-Risalah disebut sebagai ijtihad, apabila dalam Ijma' tidak ditemukan hukumnya. Akan tetapi Imam Syafi'i menolak dasar Istihsan dan Istislah sebagai salah satu cara menetapkan hukum Islam.