Tampilkan postingan dengan label Tuntunan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuntunan Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

DAFTAR KEUTAMAAN DAN GANJARAN PAHALA SHALAT TARAWIH

By: https://www.facebook.com/elleanooRrwaz

Alhamdulilah, sebentar lagi Ramadhan datang. Bulan yang penuh berkah, rahmat serta ampunanNya. Bagi umat Muslim, bulan ini sangatlah penting, karna dari dua belas bulan, hanya satu bulan ini lah yang dijanjikan Allah kepada hambaNya yang bersungguh-sungguh melakukan ibadah, akan terlahir kembali dengan tanpa dosa layaknya seorang bayi yang baru lahir.

Ramadhan, identik dengan salah satu ibadahnya yakni tarawih. Banyak umat muslim yang meremehkan ibadah ini, karna mungkin kurangnya pengetahuan dalam memahami arti ibadah di bulan Ramadhan. Selain puasa, ibadah shalat tarawih juga tak kalah pentingnya. Mengapa penting...??? Karena Allah telah menjanjikan begitu banyak ganjaran pahala bagi pelaku shalat tarawih.:

"Telah berfirman Allah Azza Wajalla semua amalan bani Adam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa. Maka itu adalah untukKu dan Aku yang memberinya ganjarannya."
"Siapa saja yang shalat tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk". (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).
Dari S. Ali bin Abu Thalib ra, beliau berkata :"Nabi Muhammad saw ditanya mengenai fadhilah shalat Tarawih dalam bulan Ramadhan. Lalu beliau saw menjawab :

Malam ke 1 Dilepaskan dari dosa, bersih bagai dilahirkan dari kandungan ibunya.

Malam ke 2 Dosa pelaku tarawih dan dosa kedua orang tuanya yang mukmin diampuni.

Malam ke 3 Malaikat akan menyerunya dari bawah Arsy dengan mengatakan, “Mulailah bekerja, maka Allah mengampuni dosamu yang telah lalu”.

Malam ke 4 Diberikan pahala sebanyak pahala membaca kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.

Malam ke 5 Diberikan pahala seperti pahala orang mengerjakan shalat di Masjidil Haram, Masjidil Madinah dan Masjidil Aqsha.

Malam ke 6 Diberikan pahala seperti pahala orang yang melakukan thawaf di Baitul Makmur, ditambah ampunan yang dimohon semua batu dan tanah liat keras kepadanya.

Malam ke 7 Laksana bertemu Musa a.s dan membantunya memerangi Fir’aun dan Haman.

Malam ke 8 Allah memberikan keberkahan seperti apa yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s.

Malam ke 9 Seakan-akan mengerjakan ibadah laksana ibadah yang dikerjakan Muhammad saw.

Malam ke 10 Allah memberikan rezeki kebaikan di dunia dan di akhirat.

Malam ke 11 Pelaku tarawih akan keluar dari dunia (meninggal) seperti hari dia dilahirkan dari kandungan ibunya.

Malam ke 12 Dijanjikan pada hari kiamat nanti akan datang dengan wajah indah seperti bulan purnama.

Malam ke 13 Dijamin keselamatan di hari kiamat, bebas dari segala resiko.

Malam ke 14 Malaikat akan memberikan persaksian bahwa pelaku tarawih sungguh-sungguh telah mengerjakan shalat tarawih karena itu Allah tidak akan menghisabnya di hari kiamat.

Malam ke 15 Para malaikat, para pembawa Arsy dan Kursiy memohon penambahan kebaikan untuk orang yang mengerjakan shalat tarawih.

Malam ke 16 Allah mencatat pelaku tarawih bebas selamat dari neraka dan bebas masuk surga.

Malam ke 17 Diberikan pahala sebanyak pahala para nabi.

Malam ke 18 Satu diantara banyak malaikat akan berkata: “Hai hamba Allah”, sesungguhnya Allah telah ridha kepadamu dan kepada kedua orang tuamu.

Malam ke 19 Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus.

Malam ke 20 Diberi pahala sebanyak pahala para syuhada dan shalihin.

Malam ke 21 Allah mendirikan bagi orang yang mengerjakan shalat tarawih sebuah rumah dari cahaya surga.

Malam ke 22 Di hari kiamat dijamin akan datang dalam keadaan aman dari segala rasa susah dan duka.

Malam ke 23 Allah membangun sebuah kota di dalam surga bagi pelaku tarawih.

Malam ke 24 Akan dikabulakan dua puluh empat doa yang diminta.

Malam ke 25 Allah menghapuskan dari siksa kubur.

Malam ke 26 Akan ditingkatkan pahalanya selama empat puluh tahun.

Malam ke 27 Dijamin dapat melewati jembatan ( Shirathal Mustaqim ) dengan mudah dan cepat bagai halilintar.

Malam ke 28 Mengangkatnya seribu derajat di dalam surga.

Malam ke 29 Diberikan pahala seribu ibadah haji dan diterima (mabrur).

Malam ke 30 Allah berfirman, “Makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hambaKu.

Semoga kita semua terpacu untuk beribadah dengan sungguh-sungguh sehingga kita semua akan mendapatkan fitrah yang dijanjikan Allah.

Amiin Yaa Rabbal 'Alamin.....

Senin, 04 April 2011

Tata cara minum menurut Rasulullah SAW

Seperti halnya kebutuhan untuk makan, minum merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, karena cairan merupakan unsur penting yang diperlukan oleh tubuh, pemberian cairan yang cukup akan membuat kondisi tubuh lebih nyaman dan bersahabat.
Namun tak jarang dari kita yang cenderung menganggap sepele atau mungkin tak mengetahui cara meminum ini, kadang kita melakukannya sambil berdiri bahkan sambil berjalan.
Bersegeralah untuk menghentikan kebiasaan minum dengan cara sambil berdiri itu, sebab minum sambil berdiri mengakibatkan air yang kita minum tidak bisa mengalir secara optimal dan bertahan dalam lambung dengan tenang sehingga lever tidak dapat mensirkulasikannya ke seluruh organ tubuh dengan baik.


Rasulullah SAW memberikan anjuran yang baik dalam hal tata cara minum, yang tentunya berpengaruh positif bagi kesehatan tubuh yaitu minum sambil duduk dan melakukan aktivitas minum dengan cara bertahap . dalam hal ini Anas bin Malik meriwayatkan dalam Shahih Muslim;
"Rasulullah SAW biasa bernafas tiga kali saat meminum air sambil berkata:"cara itu lebih memuaskan, lebih enak dan lebih sehat."

Faedah dari cara minum seperti yang dilakukan Rasulullah SAW diatas adalah bahwa saat meneguk minuman pertama kali, uap yang berasal dari jantung dan lever orang yang minum naik ke atas karena masuknya air ke dalam tubuh, sehingga uap panas itu secara alamiah terdesak ke luar. Sementara kalau seseorang meneguk minumannya sekaligus dalam satu kali teguk, maka turunnya air akan terjadi secara bersamaan dengan naiknya uap ke atas, sehingga terjadi saling tolak menolak dan dorong mendorong.

Cara meminum dengan bertahap ditengarai lebih aman dari kemungkinan akibat penggempuran rasa haus secara spontan. Sebab penggempuran rasa haus secara spontan dapat memadamkan proses pembakaran alami dalam tubuh karena kuatnya rasa dingin air tersebut, atau setidaknya melemahkan proses tersebut sehingga mengakibatkan rusaknya proses metabolisme pada lambung dan lever.


Tentang tata cara minum lainnya menurut Rasulullah SAW, Abdullah bin al-Mubarak, al-Baihaqi dan Ulama lainnya meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau bersabda;
"Kalau salah seorang diantara kalian minum, hendaknya ia meneguknya seperti orang menghisap, bukan seperti orang menuang air. Penyakit hati (lever) itu diantaranya karena cara minum seperti itu."

Menurut riwayat di atas melakukan aktivitas minum dengan cara seperti orang menuang air berpotensi timbulnya penyakit Kubaad atau di indonesia lebih dikenal sebagai Hepatitis. Hepatitis itu sendiri adalah sejenis penyakit pada lever (hati). Berdasarkan eksperimen telah dibuktikan bahwa cara minum sekaligus yang langsung menggempur hati bisa menyebabkan sakit atau memperlemah suhu panas alaminya, penyebabnya adalah konfrontasi langsung dengan suhu panas tersebut akibat masuknya air dengan kuantitas tertentu. Berbeda halnya kalau air itu turun secara bertahap sedikit demi sedikit, konfrontasi itu tidak akan terjadi dan tidak akan memperlemah kondisi lever.


Alangkah baiknya kita menyayangi tubuh kita dengan memperlakukannya dengan cara yang tepat dan menyehatkan. Jangan sampai resiko fatal menimpa tubuh kita hanya gara-gara cara minum yang salah.


Wallahu a'lam bish-shawwab.







* Dirangkum dari buku "Metode Pengobatan Nabi Muhammad SAW" karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah *

Minggu, 13 Februari 2011

Adab dan syarat Penafsir AL-Qur'an.

Untuk bisa menafsirkan AL-QUR'AN, seseorang Muslim harus memenuhi beberapa ketentuan yaitu:

1. Beraqidah Shahihah, karena aqidah sangat berpengaruh dalam menafsirkan Al-Qur'an.

2. Tidak dengan hawa nafsu, karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melihat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.

3. Mengikuti urutan dalam menafsirkan Al-Qur'an seperti penafsiran dengan Al-Qur'an kemudian as-sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabi'in.

4. Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya. Sebab Al-Qur'an turun dengan bahasa arab. Mujahid berkata; "Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (Al-Qur'an) jikalau tidak menguasai bahasa arab."

5. Memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna atau mengistimbat suatu hukum sesuai dengan nusus syari'ah.

6. Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan Al-Qur'an seperti ilmu nahwu (grammer), al-isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya), al-ma'ani, al-bayan, al-badi, ilmu qiro'at (macam-macam bacaan dalam Al-Qur'an), aqidah shahihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukh, fiqh, hadits, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan.


Adapun beberapa adab yang harus dimiliki seorang Mufassir/penafsir Al-Quran, yaitu:

- Berakhlak baik agar ilmunya bermanfaat.

- Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari keridho'an ALLAH SWT semata. Karena seluruh amalan tergantung dari niatannya.

- Hati-hati dalam menukilkan sesuatu, tidak menulis atau berbicara kecuali setelah meneliti terlebih dahulu kebenarannya.

- Tenang dan tidak tergesa-gesa baik dalam penulisan maupun penyampaian dengan menggunakan metode yang sistematis dalam menafsirkan suatu ayat. Memulai dengan asbabunnuzul, makna kalimat, menerangkan susunan kata dengan melihat dari sudut balagho, kemudian menerangkan ayat tersebut secara global dan diakhiri dengan mengistimbat hukum atau faedah yang ada pada ayat tersebut.




Dirangkum dari :
Manna'ul qattan mabahisul ulumul qur'an hal:329
dan Al-'aqdu astamin fi manahijil mufassirin hal:145

Kamis, 10 Februari 2011

Menyikapi konflik dalam berumah tangga

Pada umumnya hubungan atau interaksi sosial dalam proses kehidupan ini tidak lepas dari yang namanya konflik sekecil apapun itu, begitupun dalam hubungan antara suami istri. ISLAM mengajarkan pada suami dan istri untuk tidak membiarkan permasalahan yang ada berjalan di atas kemauan syaithan pada saat mengalami konflik dalam berumah tangga.

Apabila terjadi problema diantara suami istri, dianjurkan untuk harus segera menyelesaikannya dengan cara saling introspeksi diri, menyatukan pendapat, melakukan upaya perdamaian, menutup pintu-pintu dan menjulurkan hijab {tidak membiarkan terlibatnya pihak ketiga}, memohon perlindungan pada ALLAH SWT dari hasutan syaithan yang terkutuk serta saling memaafkan dengan sepenuh hati.

Mudah-mudahan ALLAH SWT selalu menjaga dan melindungi bahtera rumah tangga umat Muslim sedunia agar tetap Istiqomah dalam keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah.


..Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin..

Minggu, 06 Februari 2011

Etika Bepergian Jauh (Safar)

1. Disunnatkan bagi orang yang berniat untuk melakukan perjalanan jauh (Safar) beristikharah terlebih dahulu kepada ALLAH SWT mengenai rencana safarnya itu, yakni dengan cara melakukan shalat dua raka'at di luar shalat wajib, lalu berdoa dengan doa istikharah.

2. Disunnatkan berangkat safar pada pagi (dini) hari dan sore hari, karena Rasulullah SAW bersabda: "Ya ALLAH, berkahilah bagi umatku di dalam kediniannya.", dan Beliau juga bersabda: "Hendaknya kalian memanfaatkan waktu senja, karena bumi dilipat di malam hari."
{HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani}.

3. Apabila akan naik kendaraan, baik berupa mobil atau lainnya untuk melaksanakan safar, maka hendaknya membaca Basmalah, dan apabila telah berada di atas kendaraan hendaknya bertakbir sebanyak tiga kali kemudian membaca doa safar yang artinya:
"Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami; Ya ALLAH, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu di dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketakwa'an, dan amal yang Engkau ridho'i; Ya ALLAH, mudahkanlah perjalanan ini bagi kami dan dekatkanlah kejauhannya; Ya ALLAH, Engkau adalah penyerta kami di dalam perjalanan ini dan pengganti kami di keluarga kami; Ya ALLAH, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bencana safar dan kesedihan pemandangan, dan keburukan tempat kembali pada harta dan keluarga."
{HR.Muslim}

4. Disunnatkan bertakbir di saat jalan menanjak (naik) dan bertasbih di saat menurun, karena ada hadits Rasulullah SAW yang menuturkan: "Apabila (jalan) kami menanjak, maka kami bertakbir, dan apabila menurun maka kami bertasbih."
{HR.Al-Bukhari}

5. Apabila telah sampai ke tujuan dan menunaikan keperluan dari safar yang dilakukan, maka hendaknya segera kembali pulang ke kampung halaman. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits Abu Hurairah ra menyebutkan:
"Apabila salah seorang kamu telah menunaikan hajatnya dari safar yang dilakukan, maka hendaklah ia segera pulang kembali ke kampung halamannya."
{Muttafaq 'alaih}

6. Disunnatkan disaat telah tiba kembali di kampung halaman dari bepergian jauh (Safar) untuk pergi ke masjid terlebih dahulu guna melaksanakan shalat dua raka'at. Ka'ab bin Malik meriwayatkan:
"Bahwasannya Nabi Muhammad SAW. apabila datang dari perjalanan (safar), maka ia langsung menuju masjid dan disitu ia shalat dua raka'at."
{Muttafaq 'alaih}



dirangkum dari:
-Etika kehidupan Muslim Sehari-hari, terbitan Yayasan As-Sofwa, jakarta.

Sabtu, 29 Januari 2011

Menyantap makanan secara mulia menurut Rasulullah SAW

Makan, minum dan berkembang biak adalah pemenuhan kebutuhan manusia. Agar kebutuhan-kebutuhan ini tak sekedar jadi pemenuhan tanpa makna, Nabi Muhammad SAW menggariskan aturan-aturan. Aturan-aturan ini juga dimaksudkan agar pemenuhan kebutuhan tadi tetap menjadi sarana manusia meraih kemuliaannya.
Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan membaca Bismillah dan menggunakan tangan kanan setiap kali makan, memang terlihat mudah ajaran ini namun kandungan hikmahnya amatlah tinggi. Penyebutan asma ALLAH adalah pernyataan ruhani bahwa makan seseorang terkait langsung dengan ALLAH SWT, lontaran lisan ini juga merupakan pernyataan tak ada pihak lain yg terlibat dalam aktivitas makan itu selain yg bersangkutan, ALLAH SWT dan makanan sebagai karunia-Nya.

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir R.A bahwa Rasulullah bersabda:
"Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya dengan menyebut Bismillah, saat masuk dan ketika makan, maka setan berkata pada temannya, 'Tiada tempat tinggal dan tiada makanan bagi kamu disini.' dan apabila seseorang masuk rumah tanpa menyebut Bismillah, setan berkata, 'Kamu dapat bermalam di rumah ini.' lalu jika di waktu makan tak disebut nama ALLAH, setan berkata pada temannya 'Kamu dapat bermalam dan makan di sini'."
jelas, penyebutan asma ALLAH menjadi semacam manifesto ketidak hadiran setan. jika kita lalai dan meluputkannya, berarti setan telah kita undang makan bersama kita.


Namun bagaimana jika seseorang lupa mengucapkan asma ALLAH dan baru menyadarinya di tengah-tengah makannya? Abu Dawud meriwayatkan hadits Rasulullah yg menjadi jawaban pertanyaan ini:
"Ketika Rasulullah SAW sedang duduk, ada seseorang makan tanpa menyebut nama ALLAH, hingga makanan tersisa di piringnya tinggal sesuap. Tiba-tiba di saat makanan sesuap itu akan dimasukan ke dalam mulutnya ia membaca: Bismillahi awwlahu wa akhirahu. Mendadak Nabi SAW tertawa dan bersabda, 'Setan makan bersama dia sepanjang makannya tadi, namun ketika ia menyebut nama ALLAH, setan kontan memuntahkan isi perutnya'."

Setiap kali nama ALLAH SWT disebut, keberkahan datang. Makanan yg disantap seseorang secara spiritual meningkat kualitasnya. Berkah ini menurut Nabi Muhammad SAW turun tepat di tengah-tengah makanan, karenanya Rasulullah pun menganjurkan seseorang memakan makanan dari pinggir-pinggir piringnya agar keberkahan itu dapat dirunut dari awal hingga akhir.

Keberkahan ini menjadi nilai standar porsi makan seseorang, makanan yg terpenuhi aspek berkahnya akan memberi konsekuensi seseorang makan dalam jumlah cukup, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Nabi Muhammad SAW menunjukkan hal ini dalam hadits riwayat At-Tirmidzy: Aisyah berkata "Ketika Rasulullah SAW sedang makan-makan bersama enam orang sahabatnya, mendadak datang seorang Badui yg lantas memakan semua hidangan dalam dua kali suap. Maka Nabi SAW Bersabda, 'Seandainya ia menyebut nama ALLAH tentu (jumlah makanan yg ia santap itu) akan mencukupi kamu sekalian'."

Tidak berlebihan dalam jumlah, tidak berlebihan pula dalam prosesnya. Orang Badui itu tentulah menggunakan seluruh jarinya memakan makanan tersebut, Nabi Muhammad SAW menggambarkan betapa tidak baiknya hal itu. Beliau memberi contoh makan dengan tiga jari, sebab makan yg berkah memang hanya perlu tiga jari dalam prosesnya, makanan yg dimasukkan ke mulut akan pas jumlahnya untuk dikunyah dan dicerna secara berturut-turut. Kita tak akan tersedak dan makanan akan maksimal bermetamorfosa menjadi zat-zat yg diperlukan guna melangsungkan hidup kita.

Keberkahan itu mesti dijaga sepanjang makan. Nabi Muhammad SAW melarang kita mencaci makanan karena hal itu melunturkan berkah ALLAH dan membuat kita jadi orang yg tak bersyukur. Kita diperbolehkan meninggalkan makanan jika kita tak menyukainya.
Dan jangan lupa, akhiri aktivitas makan dengan mengucap Alhamdulillah..sebagai ungkapan rasa syukur kita atas nikmat yang telah diberikan oleh ALLAH SWT.


----- Amiin Ya Rabbal Alamiin -----

Jumat, 28 Januari 2011

MAAF & JANJI

"MAAF" demikian mudah mengucapkan sepenggal kalimat itu, namun dengan mudah pula kembali melakukan apa yang telah disesali. Orang dengan gampang berjanji dan dengan gampang pula mengingkarinya, seolah-olah tanpa dosa, lalu kemudian dengan ringan mengucapkan "maaf".


Dalam soal janji ini Rasulullah SAW bersabda "Tidak sempurna iman bagi mereka yang tidak bersifat amanah dan tidak sempurna agama bagi mereka yang tidak menepati janji." (HR.Muslim).
Janji adalah suatu komitmen yang kita buat sendiri dan diharapkan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, setia kepada janji merupakan bagian dari iman. Setiap perjanjian yang dibuat oleh seorang muslim, pertanggung jawabannya bukan hanya secara horizontal, tapi juga vertikal. Karena tidak ada satupun yang dilakukan oleh seorang muslim yang tidak diminta pertanggung jawabannya.


Menyalahi janji atau ingkar janji, bukan saja mencederai mereka yang berjanji, tapi juga membuat buku amalannya tercoreng. Menjadikannya hamba yang tidak bersungguh-sungguh menjaga akhlaq.


Banyak sekali contoh di sekitar kita akan hal ini, mereka yang dengan gampang berjanji lalu dengan gampang pula mengingkarinya, sehingga janji tidak lagi mempunyai makna apa-apa. Kalimat demi kalimat mengalir, lalu menghilang tak berbekas.


Kalau kondisi tidak memungkinkan untuk menepati, janganlah berjanji. Dalam agama Islam diajarkan agar setiap berjanji mengucapkan kalimat insyaAllah (semoga ALLAH SWT mengizinkan), dengan tujuan ada kesungguhan kita untuk menunaikannya, bukan apologi untuk menghindari tanggung jawab. ALLAH SWT berfirman dalam Al-Quran:

"Dan penuhilah janji,sesungguhnnya janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya."
[Q.S Al-Isra:34]

"(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa."
[Q.S Ali Imran:76].


Kecenderungan orang yang berjanji sekedar lips service atau kata-kata belaka tanpa diwujudkan sangat dicela dalam agama Islam sebab melanggar janji (Ghodar) termasuk dosa yang besar dalam syariat Agama Islam. Semoga kita semua bisa meneguhkan komitmen keberagamaan dan ketaatan kita kepada ALLAH SWT, termasuk dalam memaknai kata maaf dan komitmen untuk memenuhi janji yg telah dan akan kita ucapkan.

- Amiin Yaa Rabbal Alamiin -

Tata cara bercanda dalam ISLAM

Bercanda adalah bagian dari kehidupan manusia, tanpa canda, hidup terasa monoton dan hampa. ISLAM memperbolehkan umatnya bercanda namun dalam batas sewajarnya serta tidak berlebihan.


ISLAM memberikan tuntunan dalam bercanda agar canda yg dilakukan tidak berbalik menjadi dosa, yaitu:

1. Tidak berlebihan.
Karena canda yg berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia, kehormatan harga diri di dalam ISLAM sama dengan kehormatan darah dan harta, kesadaran seorang muslim untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan diri dan orang lain terutama terhadap sesama muslim.

2. Bukan cacian dan cemoohan ataupun hinaan.
ALLAH SWT berfirman " Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)."
{Q.S Al-Hujurat[49]:11}

3. Tidak menjadikan bercanda sebagai kebiasaan.
Sebab kesungguhan dan serius adalah karakter pribadi muslim, sedang kelakar atau canda hanyalah sekedar jeda, rehat dari kepenatan aktivitas.

4. Isi canda bukan dusta dan dibuat buat agar membuat orang lain tertawa.

5. Tidak menjadikan segala aspek yg berkaitan dengan keagamaan sebagai materi canda