Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

Spesial.... Janji + Sumpah dimasak pake Maaf

By : https://www.facebook.com/elleanooRrwaz


“Demi Allah..... Aku berbeda dengan yang lain, aku tak akan menyakitimu, apa lagi meninggalkanmu, sungguh aku tak kan bisa walau sedetik saja tanpamu......”


Kalimat di atas bisa dibilang sebagai gombalan anak muda yang sedang kasmaran. Hal ini sering terjadi ketika salah satu pihak merasa bahwa pasangannya tidak serius atau hanya sekedar mempermainkannya. Sebagai cara agar mempertahankan argumen, lontaran2 janji bahkan sumpah pun tertumpahkan, tak tanggung2, kalimat “Wallahi” atau sering kita ucapkan dengan “Demi Allah” pun ikut melayang2 di udara menuju ruang hampa pada lapisan bumi bagian atas. Mengapa bisa terjadi demikian....???? Ada dua jawabannya. Si fulan itu tidak tau hukum bersumpah atau si fulan itu sudah faham dengan hukumnya, namun mengabaikan demi tercapainya maksud. Ironi sekali memang. Kemudian, setelah pelanggaran, muncullah kata "MAAF", demikian mudah mengucapkan sepenggal kalimat itu, namun dengan mudah pula kembali melakukan apa yang telah disesali. Orang dengan gampang berjanji dan dengan gampang pula mengingkarinya, seolah-olah tanpa dosa, lalu kemudian dengan ringan mengucapkan "MAAF".


Orang beriman tidak akan berani mempermainkan janji apalagi sumpah yang tak tanggung2 mengikutkan “Wallahi” di belakangnya. Hal ini sesuai dengan kriteria orang beriman yang disebutkan Allah SWT melalui firmanNya, “Telah beruntunglah orang2 beriman. (yaitu) yang...... Dan (sungguh beruntung) orang2 yang memelihara amanat2 dan janjinya. (QS. Al-Mu’minun : 1-8).


Dan dalam soal janji ini Rasulullah SAW bersabda "Tidak sempurna iman bagi mereka yang tidak bersifat amanah dan tidak sempurna agama bagi mereka yang tidak menepati janji." (HR.Muslim). Janji adalah suatu komitmen yang kita buat sendiri dan diharapkan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, setia kepada janji merupakan bagian dari iman. Setiap perjanjian yang dibuat oleh seorang muslim, pertanggung jawabannya bukan hanya secara horizontal, tapi juga vertikal. Karena tidak ada satupun yang dilakukan oleh seorang muslim yang tidak diminta pertanggung jawabannya.


Terlihatlah sudah dengan nyata bahwa seseorang yang tidak menepati janjinya adalah orang yang mempermainkan atau memperolok2kan agama Allah. Jika dia adalah orang beriman, pastilah dia mengerti bahwa janji itu adalah hutang, dan hutang wajib untuk dibayar, “Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhumaa : Datang seseorang pada Nabi saw dan berkata : Wahai Rasulullah (saw), Sungguh ibuku wafat dan ia mempunyai hutang puasa satu bulan, apakah aku membayarnya untuknya?, sabda Rasulullah saw :”Betul, dan hutang pada Allah SWT lebih berhak untuk ditunaikan” (Shahih Bukhari).


_Wallahu a’lam bish shawab_


Janji atau sumpah sangat sering diucapkan tanpa mengerti makna yg sebenaranya......


Bagaimanakah syairat Islam memandang fenomena ini, khususnya janji antara dua sejoli untuk menikah? Adakah landasan syar`inya? Bisakah hal itu dibenarkan?


Hukum Berjanji


Berjanji itu harus ditepati dan melanggar janji berarti berdosa. Bukan sekedar berdosa kepada orang yang kita janjikan tetapi juga kepada Allah. Dasar dari wajibnya kita menunaikan janji yang telah kita berikan antara lain adalah perintah Allah SWT dalam Al-Qurân Al-Karîm


Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai Saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. An-Nahl : 91)


Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan karena kamu menghalangi dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar. (An-Nal : 94)


Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan 10 orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barangsiapa tidak mampu melakukannya maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah2mu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah Menerangkan hukum2Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepadaNya). (Q.s. Al-Maidah: 89)


Makna: “…sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)…” sebagaimana penjelasan A’isyah adalah kebiasaan orang arab yang mengucapkan “wallaahi…” (demi Allah), namun maksud mereka bukan untuk bersumpah.


Berdasarkan ayat di atas, orang yang bersumpah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan dia serius dalam sumpahnya, kemudian dia melanggar sumpahnya maka dia berdosa. Untuk menebus dosanya, dia harus membayar kaffarah.


Berdasarkan ayat di atas, kaffarah sumpah ada 4:


1. Memberi makan 10 orang miskin


Memberi makan di sini adalah makanan siap saji, lengkap dengan lauk-pauknya. Hanya saja, tidak diketahui adanya dalil yang menjelaskan batasan makanan yang dimaksudkan selain pernyataan di ayat tersebut: “makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu”.


2. Memberi pakaian 10 orang miskin


Ulama berselisih pendapat tentang batasan pakaian yang dimaksud. Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bahwa batas pakaian yang dimaksudkan adalah yang bisa digunakan untuk shalat. Karena itu, harus terdiri dari atasan dan bawahan. Dan tidak boleh hanya peci saja atau jilbab saja. Karena ini belum bisa disebut pakaian.


Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang miskin yang berhak menerima dua bentuk kafarah di atas hanya orang miskin yang muslim. ‎


3. Membebaskan budak


Keterangan: Tiga jenis kaffarah di atas, boleh memilih salah satu. Jika tidak mampu untuk melakukan salah satu di antara tiga di atas maka beralih pada kaffarah keempat,


4. Berpuasa selama tiga hari.


Pilihan yang keempat ini hanya dibolehkan jika tidak sanggup melakukan salah satu diantara tiga pilihan sebelumnya. Apakah puasanya harus berturut-turut? Ayat di atas tidak memberikan batasan. Hanya saja, madzhab hanafiyah dan hambali mempersyaratkan harus berturut-turut. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, boleh tidak berturut-turut, dan dikerjakan semampunya.


Demikian keterangan yang disadur dari Fiqh Sunah Sayid Sabiq, (3/25 – 28).


Ingkar Janji Adalah Perbuatan Syetan


Ingkar janji itu merupakan sifat dan perbuatan syetan. Dan mereka menggunakan janji itu dalam rangka mengelabuhi manusia dan menarik mereka ke dalam kesesatan. Dengan menjual janji itu, maka syetan telah berhasil menangguk keuntungan yang sangat besar. Karena alih-alih melaksanakan janjinya, syetan justru akan merasakan kenikmatan manakala manusia berhasil termakan janji-janji kosongnya itu.


Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS. An-Nisa : 120)


Ingkar Janji Adalah Sifat Bani Israil


Ingkar janji juga perintah Allah kepada Bani Israil, namun sayangnya perintah itu dilanggarnya dan mereka dikenal sebagai umat yang terbiasa ingkar janji. Hal itu diabadikan di dalam Al-Quran Al-Karim.


Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut. (QS. Al-Baqarah : 40)


Janji Yang Mungkar


Namun janji itu hanya wajib ditunaikan manakala berbentuk sesuatu yang halal dan makruf. Sebaliknya bila janji itu adalah sesuatu yang mungkar, haram, maksiat atau hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan syariat Islam, maka janji itu adalah janji yang batil. Hukumnya menjadi haram untuk dilaksanakan.


Misalnya seseorang berjanji untuk berzina, minum khamar, mencuri, membunuh atau melakukan kemaksiatan lainnya, maka janji itu adalah janji yang mungkar. Haram hukumnya bagi seorang muslim untuk melaksanakan janjinya itu. Meski pun ketika berjanji, dia mengucapkan nama Allah SWT atau sampai bersumpah. Sebab janji untuk melakukan kemungkaran itu hukumnya batal dengan sendirinya.


Dalam kasus tertentu, bila seseorang dipaksa untuk berjanji melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam, tidak ada kewajiban sama sekali baginya untuk menunaikannya. Misalnya, seorang prajurit muslim dan disiksa oleh lawan. Lalu sebagai syarat pembebasan hukumannya, dia dipaksa berjanji untuk tidak shalat atau mengerjakan perintah agama. Maka bila siksaan itu terasa berat baginya, dia diberi keringanan untuk menyatakan janji itu, namun begitu lepas dari musuh, dia sama sekali tidak punya kewajiban untuk melaksanakan janjinya itu. Sebab janji itu dengan sendirinya sudah gugur.


Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.(QS. An-Nah; : 106)


Janjian Untuk Menikah


Janji yang diucapkan oleh laki-laki yang bukan mahram dan bukan dalam status mengkhitbah itu tidak mengikat buat seorang wanita untuk menikah dengan orang lain atau menerima khitbah dari orang lain. Karena itu baru sekedar janji dan bukan khitbah.


Jadi di tengah jalan, wanita itu sah-sah saja bila menikah dengan orang lain dengan atau tanpa alasan apapun. Kecuali bila anda telah mengkhitbahnya/melamarnya secara syar`i. Karena khitbah memiliki kekuatan hukum yang mengikat calon pengantin wanita.


Sebenarnya dalam Islam tidak dikenal janji seperti itu karena memang tidak memiliki kekuatan hukum. Jadi tidak ubahnya seperti pacaran dan janji-janji sepasang kekasih yang kedudukannya tidak jelas. Janji untuk menikahi yang dikenal dalam Islam adalah khitbah itu sendiri. Ini adalah sejenis ikatan meski belum sampai kepada pernikahan. Begitu menerima dan menyetujui suatu khitbah dari seorang laki-laki, maka wanita itu tidak boleh menerima lamaran orang lain. Meski belum halal, tetapi paling tidak sudah berbentuk semi ikatan. Orang lain tidak boleh mengajukan lamaran pada wanita yang sedang dalam lamaran.


Bila memang masih jauh untuk siap menikah, sebaiknya anda tidak usah terlalu memberi perhatian dalam masalah hubungan dengan wanita terlebih dahulu. Apapaun bentuknya. Dan tidak perlu membentuk hubungan khusus dengan siapa pun. Nanti pada saatnya anda siap berumah-tangga, maka silahkan ajukan lamaran kepada wanita yang menurut anda paling anda sukai. Jadi lebih real dan lebih pasti.


Dan ketahuilah bahwa para wanita umumnya lebih suka pada sesuatu yang pasti ketimbang digantung-gantung tidak karuan. Atau diberi janji-janji yang tidak jelas apa memang mungkin terlaksana atau hanya gombalisme belaka.


_Wallahu a'lam bish shawab_


Menyalahi janji atau ingkar janji, bukan saja mencederai mereka yang berjanji, tapi juga membuat buku amalannya tercoreng. Menjadikannya hamba yang tidak bersungguh-sungguh menjaga akhlaq.


Banyak sekali contoh di sekitar kita akan hal ini, mereka yang dengan gampang berjanji lalu dengan gampang pula mengingkarinya, sehingga janji tidak lagi mempunyai makna apa-apa. Kalimat demi kalimat mengalir, lalu menghilang tak berbekas.


Kalau kondisi tidak memungkinkan untuk menepati, janganlah berjanji. Dalam agama Islam diajarkan agar setiap berjanji mengucapkan kalimat insyaAllah (semoga ALLAH SWT mengizinkan), dengan tujuan ada kesungguhan kita untuk menunaikannya, bukan apologi untuk menghindari tanggung jawab. ALLAH SWT berfirman dalam Al-Quran: "Dan penuhilah janji,sesungguhnnya janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya." [Q.S Al-Isra:34] , "(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." [Q.S Ali Imran:76].


Kecenderungan orang yang berjanji sekedar lips service atau kata-kata belaka tanpa diwujudkan sangat dicela dalam agama Islam sebab melanggar janji (Ghodar) termasuk dosa yang besar dalam syariat Agama Islam. Semoga kita semua bisa meneguhkan komitmen keberagamaan dan ketaatan kita kepada ALLAH SWT, termasuk dalam memaknai kata maaf dan komitmen untuk memenuhi janji yg telah dan akan kita ucapkan.


- Amiin Yaa Rabbal Alamiin -


*Dirangkum dari beberapa sumber.

Senin, 06 Februari 2012

Waktu yang teramat pendek.

Hidup di dunia ini sangatlah singkat dan akan merugilah bagi orang-orang yang lalai karena tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Seperti dicantumkan dalam Al-Qur'an;
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu."
{QS. As-Sajdah:5}

sebagaimana ayat diatas menggambarkan bahwa 1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia. Kita ambil saja asumsi bahwa seandainya umur kita sama dengan umur Nabi Muhammad saw., yaitu 63 tahun, maka umur kita hanyalah 63 : 1000 hari akhirat = 1.5 jam di akhirat. MasyaAllah!, betapa pendeknya umur kita ini.


Perjalanan hidup kita, jika bisa dianalogikan layaknya sebuah sinetron yang berdurasi 1-2 jam saja, sangat singkat bukan? Jika dibandingkan dengan waktu yang sebenarnya kita miliki 24 jam sehari. Sama halnya pula kita saat ini, hidup di dunia di mana kita hanyalah sebagai aktor yang memerankan perannya masing-masing dan ALLAH-lah sebagai sutradaranya yang menentukan panjang pendeknya peran kita. Nah, sekarang tinggal kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita mau berusaha untuk mendapatkan peran utama atau tidak?. Yaitu peran sebagai manusia di muka bumi yang selalu beribadah dengan ikhlas dan berjuang menegakkan kalimat Laa Ilaaha Illallah.

Dalam perjalanan hidup menggapai ridha ALLAH SWT. tentu saja tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Karena selain manusia sesungguhnya telah diberikan sifat-sifat fitrah dari ALLAH SWT., tetapi manusia juga selalu diliputi oleh hawa nafsu. Dan disitulah setan berperan mempengaruhi diri kita yang mana bila kita tidak dapat mengontrolnya, dapat menjerumuskan kita ke jurang penuh dosa.
Kemudian, jika dicermati ternyata tantangan yang ada bukan itu saja, lingkungan pergaulan pun akan dapat mempengaruhi. Dan bila kita tidak mampu menyaring dan membentengi diri dari hal-hal yang negatif, pada akhirnya juga akan menyeret kita kepada perkara yang dimurkai ALLAH. Kita sesungguhnya memiliki kebebasan untuk memilih reaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi atas diri kita. Kitalah penanggungjawab utama atas sikap kita, bukan lingkungan kita. 

Lingkungan bisa berubah-ubah dalam hitungan detik tanpa bisa diduga, namun prinsip adalah tetap, prinsip tidak berubah. Disanalah akan terletak rasa aman yang hakiki. Rasa aman tercipta dari dalam, bukan dari luar. Prinsip yang benar bukanlah sekedar sikap 'proaktif' yang selama ini dikenal di barat, yaitu melihat dan merespon dengan cara yang berbeda tanpa prinsip dasar yang jelas. Prinsip dasar adalah suatu kesadaran fitrah, berpegang kepada pencipta yang abadi. Prinsip yang esa, Laa Ilaaha Illallah.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan Islam menjadi terasing.


Ada 2 faktor yang bisa dianggap sebagai penyebab Islam menjadi terasing. pertama dari faktor internal, kedua dari faktor eksternal.
Apa saja faktor internal yang menyebabkan Islam terasingkan?

1. Kaum Muslimin yang malas belajar.
Ini akan menyebabkan kaum Muslimin tidak mengenal dan memahami serta mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar.
Ya, bagaimana mau mengamalkan ajaran Islam, sedangkan dirinya saja tidak paham dengan ajaran Islam.

2. Tidak terjalin ukhuwah dengan benar antar kaum Muslimin.
Meski kelihatan bersama, tetapi kaum Muslimin tidak bersatu. Mereka berjalan sendiri-sendiri. Mereka yang aktif berdakwah seringkali diacuhkan dan tak dihiraukan, mereka yang aktif berbuat dosa juga tidak mau diingatkan. Dan, yang lebih parah lagi adalah sesama aktivis dakwah kadangkala tidak akur. Padahal bersaudara dalam Islam itu adalah sebuah kenikmatan dari ALLAH SWT. Jika kita bersama dan bersatu, insyaAllah kita akan terlihat sebagai kekuatan yang besar. Sebagaimana firman ALLAH;
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) ALLAH, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat ALLAH kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka ALLAH mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat ALLAH orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu ALLAH menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah ALLAH menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."
{QS. Ali Imran:103}

3. Sedikit atau bahkan hilangnya aktivitas dakwah. Ini akan menjadi faktor pelemah kekuatan Islam karena Islam tidak tersebar dan tidak diketahui banyak oleh kaum Muslimin (dan juga non Muslim).

4. Berhentinya proses ijtihad. Ini menjadi bencana bagi kaum Muslimin karena banyak masalah baru tidak bisa terpecahkan dengan benar dan baik.


Adapun faktor eksternal penyebab Islam menjadi terasing adalah upaya golongan-golongan yang membenci Islam untuk menghancurkan Islam melalui perang pemikiran dan budaya (ghazwul fikri dan ghazwuts tsaqafiy). Sehingga kaum Muslimin yang mudah terpengaruh menjadi gamang dalam hidup bahkan merasa minder menyandang predikat Muslim. Mereka takut terasing dan akhirnya larut bersama kehidupan yang rusak: jadi hedonis dan permisif.

Itu sebabnya, mari kita bekerjasama untuk segera bangkit dari kondisi ini. Harus segera sadar, tahu, dan mau mengamalkan serta memperjuangkan Islam. Tentunya agar Islam tidak asing dan kaum Muslimin tidak merasa terasingkan. Kobarkan semangat dan tetap istiqomah bersama Islam.

Sabtu, 04 Februari 2012

Iman harus tetap ada meski dalam arus modernisasi kehidupan saat ini.



Ketika ada seorang Muslimah yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar sesuai tuntunan syariat Islam, banyak orang merasa heran melihatnya, bahkan ada sebagian besar yang menganggapnya aneh. Sebab, di tengah maraknya busana wanita yang mengeksploitasi keindahan tubuh wanita, Muslimah yang mengenakan jilbab dengan sempurna tentunya adalah fenomena keanehan. Sebuah keterasingan.

Bahkan seringkali pemakai busana Muslimah ini dianggap kuno dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman di kalangan wanita itu sendiri. Bagi Muslimah yang terpengaruh propaganda 'modern' seperti itu, akhirnya mencoba berbaur dengan budaya yang ada. Ingin tetap mengenakan busana Muslimah, tapi juga modis dan tidak mau dianggap aneh, maka maraklah pengguna busana Muslimah yang tidak sesuai aturan Islam. Misalnya, memakai kerudung saja, sementara tubuhnya tidak ditutupi jilbab. Dan ada pula yang berjilbab tapi masih berpakaian ketat (baik baju maupun celana panjang) yang menonjolkan kemolekan tubuh.

Begitu pula ketika seorang Muslim yang mempertahankan keislamannya di tengah berserakannya ide sekularisme yang mewabah dalam kehidupan masa kini, kerap disindir dengan kata-kata; "Jangan sok alim!!!" "Sok suci!!!", begitulah kira-kira umpatan yang dilontarkan kepadanya ketika ia tidak mau berbuat dosa.

Ya, ternyata berpegang teguh kepada ajaran Islam dalam arus modernisasi seperti saat ini di tengah kehidupan sekularisme, menjadi sangat terasing dan dianggap aneh.


Rasulullah saw. bersabda;
"Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu."
{HR.Muslim}

Dan dalam hadits lain, Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin yang senantiasa bersabar dalam menghadapi godaan dan rayuan kehidupan yang dapat memalingkan dirinya dari Islam, Rasulullah saw. bersabda;
"Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata, 'Hai Rasulullah, apakah itu pahala lima puluh diantara mereka?' Rasulullah saw. menjawab,'Bahkan lima puluh orang diantara kalian (para sahabat)'."
{HR. Abu Dawud}

Ketika cahaya iman tetap menyala dalam hati dan pikiran kita, insyaAllah kita tak akan pernah berada dalam kegelapan. Iman akan hidup dan memberikan tenaga bagi kita memandu ke jalan yang benar. Kita tak akan pernah terpengaruh dengan kerusakan yang melingkari kehidupan kita, meski saat ini kita hidup dalam arus modernisasi yang telah mendunia, kita tidak tergoda untuk ikut larut dalam kehidupan yang rusak dan bejat yang dapat menjerumuskan pelakunya dalam kubangan dosa walau taruhannya adalah dianggap aneh atau bahkan diasingkan.
Bersabarlah, semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjaga diri dan berusaha untuk tetap istiqomah dalam kebenaran bersama Islam.

Rabu, 27 April 2011

Perang Badar Kubra (Bagian 3)

Perang Badar (dengan seluruh hasil yang ia torehkan bagi sejarah harakah Islamiah maupun sejarah umat manusia seluruhnya) telah menjadi sebuah pelajaran yang sangat jelas sekali bagi harakah Islamiah maupun bagi perjalanan sejarah ke depan.
ALLAH SWT menyebut hari itu dengan nama "yaumul furqan yaum iltaqa al-jam'an" atau hari pembeda, hari dimana dua kekuatan bertemu.
Peristiwa ini sendiri memberikan beberapa buah hasil penting antara lain:

1. Perang Badar merupakan pembatas di antara dua ikatan dan menjadi pembeda antara yang haq dan yang bathil.
Kekuatan umat Islam semakin kuat sehingga dataran Arab pun turut memperhitungkannya. Kebenaran muncul di permukaan dengan rambu-rambu aqidah dan prinsip-prinsip dasar yang dibawanya.

2. Tergoncangnya kedudukan Quraisy di mata orang Arab serta kegalauan penduduk Makkah di hadapkan tamparan yang tak terduga tersebut.

3. Tampilnya umat Islam sebagai sebuah kekuatan yang memiliki arti dan pengaruh.
Hal ini menyebabkan banyak kabilah yang tinggal sepanjang jalur Makkah dan Syam membuat perjanjian kesepakatan dengan mereka.
Dengan demikian kaum Muslimin sudah menguasai jalur tersebut.

4. Sebelum Perang Badar meletus, kaum Muslimin mengkhawatirkan keberadaan orang-orang non Muslim yang tinggal di kota Madinah.
Namun setelah mereka kembali ternyata kenyataannya justru sebaliknya.

5. Semakin bertambahnya kebencian orang-orang Yahudi terhadap umat Islam. Sebagian mereka mulai menunjukkan permusuhannya secara terang-terangan.
Sementara yang lainnya menjadi agen yang membawa berita seputar perihal kaum Muslimin kepada orang-orang Quraisy serta memprovokasi mereka untuk menyerang umat Islam.

6. Aktivitas perdagangan Quraisy menjadi semakin sempit.
Akhirnya mereka terpaksa menapaki jalur Irak melalui Najd karena takut apabila dikuasai oleh orang-orang Islam.
Dan jalur ini merupakan jalur yang panjang.

7. Pada Perang Badar Kubra, 14 orang dari kalangan umat Islam gugur sebagai syuhada, 6 orang dari kalangan Muhajirin dan 8 orang dari kalangan Anshar. Sementara dari pihak musyrikin tewas sebanyak 70 orang dan 70 orang lagi berhasil ditawan, kebanyakan dari mereka adalah pemuka dan pembesar Quraisy.

Perang Badar Kubra (bagian 2).

Betapa janji ALLAH SWT selalu benar, bahwa ALLAH SWT pasti akan menolong hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya.
Sejarah telah mencatat rahmat ALLAH yang menyertai kaum Muslimin dalam perang Badar Kubra ini, yaitu;


1. Pasukan Malaikat.

Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa ketika seorang sahabat mengejar dengan gigih seorang musyrik yang ada di depannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan dan suara penunggang kuda yang menghentakkan kudanya.
Lalu sahabat tersebut melihat orang musyrik itu jatuh tewas terkapar dengan keadaan hidung dan wajahnya terluka berat akibat pukulan keras.
Hal tersebut ia ceritakan kepada Rasulullah SAW, Beliau bersabda:
"Kau benar, itu adalah pertolongan ALLAH dari langit ketiga."
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Kemenangan pada perang Badar Kubra menjadi pesta di kalangan para malaikat karena peristiwa ini adalah pertama kalinya mereka diizinkan terjun ke gelanggang perang di bawah komando malaikat Jibril dengan seribu pasukan malaikat pilihan.

ALLAH SWT berfirman: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut" {Q.S Al-Anfal:9}

Para malaikat yang terlibat dalam Perang Badar ini memiliki kemuliaan di antara semua malaikat.

Rafi'ah bin Rafi' Az Zarqi mengatakan, "Jibril berkata kepada Nabi Muhammad SAW; Bagaimana kalian menganggap veteran Badar di antara kalian? Rasulullah SAW menjawab; termasuk Muslimin yang paling mulia. Jibril berkata; demikian pula malaikat yang mengikuti perang Badar"


2. ALLAH meneguhkan hati kaum Muslimin.

"Dan ALLAH tidak menjadikan (bantuan bala tentara malaikat itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanya dari sisi ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuasa Maha Perkasa"
{Q.S Al-Anfal:10}


3 Rasa kantuk dan turunnya hujan.

"Sesungguhnya ALLAH menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya dan ALLAH menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk membersihkanmu. Karena dengan air hujan itu, ALLAH SWT menghilangkan gangguan syetan darimu dan menguatkan hatimu serta memperteguh kedudukanmu."
{Q.S Al-Anfal:11}

Rasa kantuk yang melanda para mujahid Badar merupakan salah satu nikmat.
Mengapa demikian? Karena situasi perang tidak kondusif untuk tidur, guna mengembalikan energi maka rasa kantuk menjadi suatu terapi dari suasana tegang dan mencekam.
Karena malam hari bagi kaum musyrikin adalah untuk bersenang-senang, sedangkan kaum Muslimin dikaruniakan rasa kantuk sebagai rangsangan tidur untuk memulihkan kembali tenaga.
Saat itu pun turun hujan baik di tempat kaum Muslim maupun kaum kafir.
Hal ini berdampak nikmat bagi kaum Muslim tetapi menjadi siksaan dan kendala bagi kaum kafir. Contohnya: tanah kaum Muslim menjadi padat dan tidak berdebu sehingga menjadi kokoh di injak dan tidak mengganggu pandangan.
Hujan menjadi salah satu bantuan dalam bentuk rahmat yang ALLAH SWT turunkan kepada kaum Muslimin dalam pertempuran Badar, selain jundun min jundillah atau tentara ALLAH yaitu para malaikat yang ALLAH turunkan untuk mengacaukan kaum Musyrikin.

Perang Badar Kubra (bagian 1)

Perang Badar Kubra merupakan perang pertama yang dilalui oleh umat Islam di Madinah dan mendapat kemenangan atas kaum Kafir Quraisy. perang ini terjadi di Kota Badar, 80 mil baratdaya Madinah, pada pagi hari tanggal 17 Maret 624 Masehi/17 Ramadhan 2 Hijriyah.





Peristiwa pertempuran yang meletus antar kaum Muslimin dan orang-orang musyrik ini dipicu oleh beberapa sebab, diantaranya;


1. Pengusiran Kaum Muslimin dari kota Makkah.

Genderang perang terhadap kaum Muslimin sebenarnya sudah ditabuh sejak Rasulullah SAW menyampaikan risalah dakwah. Mereka telah melakukan penyiksaan terhadap kaum Muslimin dan merampas harta benda para sahabat Nabi di kota Makkah. Perlakuan mereka terhadap orang-orang Muhajirin tidak lagi mengenal prikemanusiaan. Mereka rampas rumah dan kekayaan kaum Muhajirin.
Orang Islam pun melarikan diri dan menukarnya dengan keridhoan ALLAH SWT.


2. Penindasan terhadap umat Islam hingga kota Madinah.

Apa yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap umat Islam ternyata tidak hanya ketika mereka berada di kota Makkah. Di bawah pimpinan Kurz bin Habbab Al-Fihri, mereka memprovokasi kaum musyrikin lainnya untuk menyerang, menteror, dan menguasai harta benda milik kaum Muslimin yang ada di kota Madinah.
Oleh karena itu, sudah sewajarnya apabila orang-orang musyrik menerima balasan atas semua permusuhan dan penindasan mereka terhadap umat Islam selama ini. Mereka begitu sadar, bahwa banyak kepentingan dan hasil perdagangan mereka yang akan berpindah ke tangan orang-orang Islam di sana. Selain bahwa kini Islam telah memiliki pasukan dan wilayah yang mampu memberikan perlawanan atas kewenang-wenangan. Menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan meskipun orang-orang yang berhati durjana tidak menyukainya.


3. Memberi pelajaran kepada Kafir Quraisy.

Oleh karena itu, begitu Rasulullah SAW mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dan 'Amr bin Al-'Ash bersama 40 orang bergerak dari Syam membawa harta orang-orang Quraisy yang keseluruhannya mencapai 1000 ekor unta, maka Beliau pun segera mengajak kaum Muslimin untuk mendatanginya. Rasulullah SAW mengatakan "ini adalah perdagangan Quraisy. Maka keluarlah kalian, semoga ALLAH SWT akan memberikannya kepada kalian.". mendengar seruan ini, sebagian kaum Muslimin menyambutnya, sementara yang lainnya merasa sedikit berat dengannya. Mereka menganggap bahwa ketika itu Rasulullah SAW tidak bermaksud mengumandangkan sebuah peperangan, karena Beliau mengatakan "barangsiapa yang saat ini memiliki tunggangan, maka hendaklah ia ikut bersama kami.". Beliau tidak menunggu sahabat yang tunggangannya tidak ada pada saat itu.





Pada peperangan ini diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa terus memperbanyak doa, dengan penuh ketundukan dan khusyu'.
Sehingga Abu Bakar iba melihat Beliau seraya berkata "Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tanganNya, bergembiralah! Sesungguhnya ALLAH SWT pasti akan memenuhi janjiNya kepadamu.".
Salah satu dari doa Beliau: "Ya ALLAH, inilah orang-orang Quraisy yang datang dengan kecongkakan kesombongannya untuk mendustakan RasulMu. Ya ALLAH, tunaikanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya ALLAH, kalahkan mereka esok Hari.."

Selasa, 15 Maret 2011

Larangan berdebat

Debat adalah salah satu cara dalam menyampaikan kebenaran Islam, namun bukan berarti Al-Qur'an memerintahkan kita untuk senang berdebat sehingga mencari-cari perdebatan. Sebagai seorang Mukmin semestinya kita memahami bahwa perdebatan adalah salah satu bagian dari dakwah dan merupakan jalan terakhir dalam dakwah, bukan malah memulai dakwah dengan perdebatan.
Beberapa tahun belakangan ini perdebatan sudah ramai terjadi di berbagai media seperti media radio-televisi. Dan yang paling ramai saat ini adalah melalui media internet seperti chatting, forum mailling list, forum diskusi, situs jejaring sosial, messenger dan blog serta website yang menggelar perdebatan agama baik yang terbuka maupun tertutup. Namun didalam forum-forum atau page tersebut hampir tidak ada moderator yang memoderasi argumen-argumen yg muncul, semua pendapat mulai dari yang benar dan salah bercampur aduk disitu.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, berkata: Rasulullah SAW bersabda;"Orang yang paling dibenci ALLAH adalah yang suka berdebat."
[Muttafaq Alaihi]



Rasulullah SAW bersabda;"Jauhilah perkataan keji karena ALLAH tidak menyukai perkataan keji dan mengolok-olok dengan perkataan keji."
[HR. Ibnu Hibban, Ahmad dan Bukhari dalam Adabul Mufrad]



Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda;"Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat "Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar" {QS.Az-Zukhruf:58}."
[HR. Tirmidzi:3253, Ibnu Majah:48, Ahmad:V/252-256, Hakim:II/447-448.]

Senin, 07 Februari 2011

Say NO for Valentine Day

Apa sebenarnya Valentine Day itu? Alangkah baiknya kita sebagai umat ISLAM mengetahui asal mula dicetuskannya perayaan Valentine Day tersebut sebelum terlanjur ikut-ikutan merayakannya.


Valentine sebenarnya adalah nama seorang pemimpin agama Kristen katolik dan dia digelari sebagai orang suci (Santo/Saint/St) oleh orang-orang Kristen pada masa itu (270 M). Kisahnya diawali ketika raja Claudius II (268-270 M) mengeluarkan ultimatum yang melarang para prajurit Romawi untuk menikah dengan dalih agar prajurit dapat lebih potensial dan agresif dalam berperang.
Ultimatum ini ditentang oleh Santo Valentine, tanpa sepengetahuan sang raja secara diam-diam dia menikahkan para prajurit Romawi tersebut, namun lambat laun akhirnya tindakan Santo Valentine ini diketahui oleh raja Claudius, merasa perintahnya ditentang sang raja pun marah dan menjatuhkan hukuman mati kepada Santo Valentine.
Setelah kematian Santo Valentine para pengikutnya memperingati hari kematiannya untuk mengenang pengorbanan dan keberanian Santo Valentine serta merayakannya sebagai bentuk cinta kasih Valentine. Dua ratus tahun kemudian, tepatnya pada tahun 496 M setelah kematian Santo Valentine, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Februari 496 M sebagai Hari Valentine.


Dari uraian sejarah Valentine Day atau Hari Valentine di atas jelas Hari Valentine tersebut merupakan salah satu upacara keagamaan dalam agama Kristen yang diresmikan oleh seorang Paus. Bagi umat ISLAM merayakan Hari Valentine tersebut adalah sama halnya dengan mengikuti peribadatan orang Kristen. Dalam tatanan akidah ISLAM, seorang Muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani (Kristen) maupun agama Pagan (penyembah berhala).

ALLAH SWT menegaskan dalam Kitab Suci Al-Qur'an:

"Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku."
(Q.S Al-Kafirun:1-6)


Para pemuka agama ISLAM di seluruh penjuru dunia telah bersepakat menyatakan Haram hukumnya bagi Umat ISLAM untuk ikut berpartisipasi merayakan Hari Valentine walaupun sekedar mengucapkan
'Selamat Hari Valentine'

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah berkata:
'Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka telah disepakati bahwa perbuatan tersebut adalah Haram. Semisal dengan memberi ucapan pada hari raya mereka dan sejenisnya, itu adalah haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan ALLAH. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi ALLAH daripada membunuh'.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka."
(HR. Ahmad dan Abu Dawud).


Jelaslah sudah bahwa mengucapkan selamat atas Hari Valentine saja tidak diperbolehkan menurut Akidah ISLAM, apalagi sampai ikut berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Dalam artian diharamkan bagi kita sebagai Umat ISLAM turut serta meski sekecil apapun untuk menyambut hari tersebut.

Sabtu, 05 Februari 2011

Wanita dalam pandangan ISLAM

Berpikir picik tentang sosok wanita bukanlah produk ISLAM. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam ISLAM, dalam ISLAM wanita mendapatkan posisi yang sama dengan pria. Sebab adanya peminggiran (marginalisasi) terhadap hak-hak wanita itu berawal dari sebuah persepsi yang 'salah kaprah' mengenai wanita.


Pemikiran bias gender merupakan produk dari bangsa dan agama lain. Bangsa Yunani misalnya, melihat sosok wanita tak ubahnya seperti benda, bagi bangsa Yunani wanita layaknya "barang dagangan" yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja yang menginginkannya, wanita tak memiliki hak apapun seperti hak mengelola hartanya sendiri, hak waris dan hak untuk bersuara.
Aristoteles, Filosof Yunani terkenal masa itu hingga kini, pernah mengatakan bahwa wanita tidak berhak mengecap pendidikan, bahkan tidak layak menerimanya, kecuali cara-cara mengatur dan mengurus rumah tangga saja. Begitu juga Bangsa Romawi dalam memandang wanita, Bangsa ini menilai wanita sebagai sosok tak bernyawa, menganggap wanita seperti boneka, dapat di obrak-abrik dan perjual belikan. Menurut bangsa ini, seorang laki-laki boleh menyiksa wanita sekehendak hati.
Bagi orang-orang Cina masa lalu, wanita tak ubahnya seperti air bah yang dapat menenggelamkan ke dalam kerusakan dan kehancuran. Menurut mereka, seorang istri bila telah menjadi janda, ia akan menjadi warisan keluarga mendiang suaminya dan mereka berhak berlaku apa saja termasuk menjualnya.
Hal serupa di alami oleh kaum wanita di beberapa negara bagian Perancis. pada 586 M, mereka pernah menyelenggarakan suatu pertemuan untuk membahas wanita. Setelah panjang lebar berdebat, mereka berkesimpulan bahwa wanita hanyalah manusia yang diciptakan untuk melayani pria semata, tidak lebih.


Dari beberapa persepsi tentang wanita di atas nampak dalam konsepsi agama-agama dan bangsa non-ISLAM memandang rendah wanita, tidak ada pilihan hidup bagi seorang wanita. Segala bentuk bias pemikiran dan tendensius di atas sangat ditentang oleh ISLAM. Melalui kitab suci Al-Qur'an, ALLAH SWT menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, semua manusia punya potensi yang sama di depan ALLAH SWT, kecuali iman dan takwa masing-masing manusia itu sendiri.

ALLAH SWT berfirman:
"Barangsiapa yang mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS. Thaha [20] ; 134).

Ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan dari ayat, salah satunya tentang konsep konektisitas (hubungan) antara manusia dan perbuatan. Pada dasarnya manusia itu sama.

Kita berani berasumsi bahwa wanita jenius itu lebih utama dibandingkan pria berotak jongkok,tanpa ragu lagi kita juga akan menegaskan bahwa wanita yg berprestasi itu lebih baik dibandingkan dengan pria yg biasa biasa saja. Pada titik ini jelas terlihat bahwa derajat pria itu bisa lebih rendah dibandingkan dengan wanita.
dengan kata lain seorang muslim tak pantas menganggap remeh seorang muslimah sebab dalam ISLAM tak pernah diajarkan hal yg demikian.
Berikanlah kesempatan kepada wanita untuk menunjukkan prestasi dan jati dirinya. 

JIMAT = SYIRIK

Jimat. Sepertinya benda inilah yang menjadi kebiasaan kebanyakan penduduk Indonesia. Betapa tidak? Sebab, banyak orang-orang di sekitar kita lebih percaya pada sebongkah batu sebagai penyelesai problema kehidupan, lebih dari itu, terkadang kepingan batu itu belum cukup mewakili sebagai jimat yang ampuh, maka dicarilah jimat dalam bentuk dan rupa yang lain misalnya, keris, gulungan kertas, kulit binatang dan kain yang dirajah sedemikian rupa dan diberi mantra. Berbagai syarat dan tata cara penggunaannya pun dikerjakan agar jimat menjadi ampuh, ada yang cukup mengalungkannya di leher, diikat di pinggang, dilingkarkan di jari, meletakkan di depan pintu rumah, menempelkan di kendaraan ataupun sekedar disimpan dalam lipatan pakaian.


Orang-orang yang berjimat ria ini sangat mempercayai bahwa segala bentuk jimat itu bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka berharap dengan jimat dapat memperlancar usaha, menyembuhkan penyakit, terhindar dari musibah, memikat lawan jenis, dan banyak lagi motif-motif (tujuan) lainnya. Dengan jimat ini mereka yakin semua kesulitan hidup itu lebih mudah teratasi apalagi di zaman serba sulit seperti sekarang ini. Padahal sesungguhnya, banyak orang yang menggunakan jimat akhirnya harus menanggung beban bencana yang tak terduga baik ketika masih hidup maupun menjelang kematiannya.


Kenapa jimat-jimat ini begitu dipercaya mampu memberi solusi instan atas permasalahan hidup? Tidak sulit menjawabnya, sebab pada umumnya berbagai bentuk jimat tersebut telah diisi dan ditempeli kekuatan gaib, yakni melalu jin atau setan yang menyesatkan. Makhluk gaib inilah yang telah sengaja menggoda manusia dengan meluluskan hasrat serta keinginan melalui perantara jimat tersebut. Jin atau setan tersebut telah berhasil menaklukan dan memperdaya manusia yang menggunakan jimat untuk tidak meminta dan memohon pertolongan serta menyembah kepada ALLAH SWT. Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka ia telah berbuat syirik."
(HR. Imam Ahmad dalam kitab Musnad)

Pada titik inilah jimat membuat manusia yang menggunakannya terjatuh dalam jurang kemusyrikan. Terbukti, jimat merupakan perantara persekutuan terselubung antara jin atau setan dengan manusia untuk menentang kekuasaan ALLAH SWT.

ALLAH SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari {syirik} itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar."
(Q.S An-Nisa:48)

..Naudzubillah min dzalik..

Senin, 31 Januari 2011

GHULUW

Islam menganjurkan agar seorang muslim saling menghargai dan menghormati, terlebih terhadap para ulama dan orang saleh. Namun penghormatan kepada ulama dan orang saleh itu dapat menjadi masalah ketika berkembang menjadi sikap ghuluw (berlebihan). Jika sikap ini berkembang, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah kultus (pemujaan) individu atau pensakralan seseorang karena dianggap berilmu dan hebat.


Permasalahan ini pun akan semakin serius saat orang yang dikultuskan itu masih hidup, karena orang-orang yang mengkultuskannya bisa jadi akan bertaklid buta kepadanya. Dan karena itu, tidak mustahil bila orang saleh atau ulama yang dikultuskan itu meninggal dunia, maka akan bertambah dipuja sedemikian rupa. walhasil, kedua-duanya adalah malapetaka bagi akidah Islam.


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengupas masalah diatas dalam kitab at-Tauhid, menurutnya sebab kufurnya Bani Adam dan meninggalkan agama karena berlebihan dalam bersikap kepada orang-orang saleh.
ALLAH SWT dengan tegas mengingatkan melalui firman-Nya:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian."
(Q.S Al-Maidah: 77)


Syaikh Sulaiman bin Abdillah memaparkan bahwa perilaku ghuluw banyak sekali terdapat pada orang-orang Nasrani. mereka (orang Nasrani) berlebihan dalam memandang Isa bin Maryam, sehingga mereka mengubah derajatnya dari bingkai kenabian ke bingkai ketuhanan. Mereka menyembahnya sebagaimana mereka menyembah ALLAH, bahkan mereka pun bersikap ekstrim dengan menganggap para penyembah Isa adalah orang-orang yang terpelihara dari dosa. Kebalikannya adalah orang-orang Yahudi, mereka (orang Yahudi) dengan ekstrim menurunkan derajat Isa As dari kenabian dan menganggapnya sebagai anak hasil zina.


Ghuluw terhadap seseorang tidak mustahil pada akhirnya mempertuhankan orang itu, ALLAH SWT telah mengingatkan kita akan hal itu dengan memberikan contoh yang bukan untuk diteladani yang terjadi pada zaman nabi Nuh. Kisah itu terdapat dalam Al-Qur'an:
"Dan mereka mengatakan, janganlah kalian tinggalkan tuhan-tuhan kalian dan janganlah pula tinggalkan Wadd, Suwa', Ya'guts, Ya'uq dan Nasr."
(Q.S Nuh: 23)

Para ulama menjelaskan bahwa Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq dan Nasr adalah orang-orang saleh yang hidup di masa nabi Nuh As. Ketika mereka meninggal, setan memberikan ilham kepada kaum mereka agar membuatkan patung-patung dengan nama itu di tempat mereka bisa berkumpul, maka dibuatlah patung orang-orang saleh tersebut, pada mulanya tidak disembah, namun lama-kelamaan patung-patung itu pun akhirnya menjadi sesembahan kaum itu.


Nabi Muhammad Saw dengan segala ketinggian dan kemuliaannya tidak menghendaki dirinya dipuja sedemikian rupa melebihi hak beliau sebagai nabi dan Rasul, baik di saat beliau masih hidup maupun setelah beliau wafat. Rasulullah Saw pernah bersabda:
"Janganlah kalian memujiku secara berlebihan seperti yang dilakukan orang-orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam. Aku tidak lain seorang hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya."
{H.R Bukhari dan Muslim}


Dalam keadaan panik, Umar bin Khattab Ra pernah nyaris terperangkap dalam sikap tersebut, yaitu dengan berucap " Barang siapa mengatakan bahwa Muhammad Saw telah meninggal akan saya penggal lehernya." padahal saat itu Rasulullah Saw memang telah wafat. Namun kemudian Umar bin Khattab segera diingatkan oleh Abu Bakar Shiddiq dengan firman ALLAH SWT yaitu:
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
(Q.S Ali Imran: 144)

Rasulullah Saw bersabda: "Hindarilah sikap berlebihan, karena tidaklah orang-orang yang sebelum kamu binasa melainkan disebabkan oleh sikap berlebihan mereka."
{H.R Ahmad, Tarmidzi, Ibnu Majah}.

Benarlah Rasulullah Saw ketika mengatakan bahwa sikap ghuluw dapat membinasakan suatu umat, sebab dengan ghuluw akan muncul taklid, dan apabila kedua sikap tersebut mewabah dalam sebuah kaum atau masyarakat maka akan menyebabkan pemujaan dengan tidak lagi mengindahkan nilai-nilai kebenaran Ilahiyyah.

...Naudzubillah, Wallahu a'lam bishawab....


[disusun dari beberapa sumber]

Sabtu, 29 Januari 2011

Pembuat kerusakan di muka bumi

Jangan pernah berfikir kalau para penghuni neraka itu hanya orang2 yg berbuat salah kepada sesama saja. Kepada alam semesta pun ada perhitungannya. Para penghancur, pembakar, perusak alam sebagai tempat tinggal kita saat hidup di dunia fana ini pun dijanjikan ALLAH, ada tempat untuk mereka di hari kiamat nanti. Malah jumlah mereka tidak bisa dibilang sedikit.


Para provokator, penguasa lalim, pencipta perang dan penghancur kedamaian boleh merasa bangga di kehidupan sementara ini kalau mereka menang. Mungkin dengan satu jentikan jari saja mereka mampu menghancur luluh lantakkan suatu kaum dengan bom nuklir. Padahal mereka bukan orang yg akan selamanya berada di panggung kekuasaannya. Setiap masa ada batas akhirnya. Tidak selamanya kekuasaan seseorang terus bersamanya.


Dalam Kitab Suci Al-Qur'an ALLAH SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan."
[QS.Yunus:81]


Bukan hanya penguasa, tapi orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan tanpa memikirkan akibat yang akan mereka alami, semua dijanjikan masa waktunya. Sepanjang apa kekuasaan dan kehebatan pemimpin yang memiliki kemampuan merusak? Selama apa orang hebat bisa berkuasa di masyarakat? Semua ada akhirnya, tiada yang abadi. Tiada kekuasaan yang kekal abadi selain kekuasaan milik ALLAH SWT.

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."
[QS.Al-Araf:56]

Jabatan yang tinggi membuat mereka lupa dan membuat mereka lalai, dengan kepandaian pemikirannya, justru mereka (para pembuat kerusakan) mencari cara bagaimana agar dunia segan kepadanya, bagaimana agar semua orang hormat kepadanya dengan memperlihatkan kejayaannya dan kekuatan posisi yang dimilikinya. Penghancuran massal, pengerahan massa, dan kebijakan-kebijakan yang berakibat kerusakan besar pada tatanan kehidupan seolah-olah menjadi mainan bagi mereka. Sementara seruan firman ALLAH SWT untuk mereka (para pembuat kerusakan) tidak dihiraukannya.

ALLAH berfirman:
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan."
[QS.Al-Araf:85-56]

Seharusnya para pembuat kerusakan ingat, tidak selamanya ALLAH SWT memberikan kekuasaan di tangan mereka, namun mereka mengabaikannya. Ada balasan atas setiap perbuatan apa yang mereka lakukan, perusakan yang terjadi dari buah tangan mereka akan mereka petik di hari kiamat nanti.

ISLAM menentang ramalan-ramalan KIAMAT

Bukan rahasia umum lagi, televisi, koran, radio, internet bahkan pembicaraan dari mulut ke mulut santer membicarakan mengenai kiamat. Begitu banyak ramalan dengan berbagai versi yg menyebutkan akan datangnya hari kiamat. Bahkan ramalan-ramalan tersebut tidak hanya memberikan gambaran kasarnya saja, melainkan dengan jelas menyebutkan tahun akan terjadinya peristiwa tersebut. Ramalan yg sebelumnya menyebutkan kiamat akan terjadi pada mei 2003, kini beralih ke sembilan tahun kemudian. Ketika pada saat itu tidak ada yg terjadi, tahun ramalan kemudian direka-reka lagi menjadi tahun 2012, bahkan dengan pastinya peramal-peramal tersebut mencantumkan tanggal terjadinya yaitu 21 Desember 2012.


Begitu hangatnya perbincangan dan isu ramalan tentang kiamat sehingga mendapatkan respon dari banyak pihak, berbagai pendapat dari banyak sumber dikemukakan dan mulai dari saling dukung hingga bantah argumen. Jika ada ramalan yg mereka anggap tepat dan pas, mereka mengemukakan dengan busung dada. Namun bila meleset mereka menganggapnya sedikit salah teknis mengenai perhitungan yg mereka lakukan. Paranormal atau peramal mulai sibuk unjuk gigi, mereka saling mengemukakan ramalan-ramalan, dengan berbagai perhitungan dan ritual ghaib yg membuat mereka mengakui kalau mereka bisa melihat hal-hal yg belum terjadi.
Satu hal yg harus di garis bawahi, bahwa sesungguhnya segala apa yg diramalkan itu hanyalah sesuatu yg disangkut pautkan, ketika satu jawaban mereka dapat, jawaban-jawaban lain pun mereka hubung-hubungkan sehingga didapatlah pemikiran "kalau seperti ini terjadi maka efeknya kan seperti itu", begitupun sebaliknya, sampai kemudian pemikiran dari kecerdasan mereka yg sudah melupakan ajaran ketuhanan itu sampai di titik kehancuran dunia, mereka dengan berani berasumsi bahwa tanggal 21 Desember 2012 adalah hari akhir dari segalanya. Mereka lebih memuja otak pikiran mereka daripada ajaran agama, begitu pula dengan mimpi-mimpi atau segala macam bentuk hitung-hitungan yg di jadikan sebagai sarana ramalan.


Mereka (peramal/paranormal) lupa atau kalau mereka ingat mereka mengabaikannya, padahal seharusnya mereka memulangkan penghancuran alam semesta kepada yg membuatnya. Mereka mengesampingkan ALLAH SWT yg menciptakan segalanya. Mereka mengabaikan kalau sesungguhnya rahasia kapan datangnya hari kiamat adalah di sisi ALLAH SWT.

ALLAH SWT berfirman:
"Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan(datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan."
{Q.S An-Nahl:1}

Kiamat tidak bisa dicanangkan atau ditetapkan kedatangannya. Tidak ada seorang pun yg bisa mengetahui kapan terjadinya. Karena dengan jelas ALLAH SWT mencantumkan dalam firman-Nya:

"Telah dekat terjadinya hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah."
{Q.S An-Najm: 57-58}



karenanya, sebagai orang muslim sudah sepatutnya kita tidak mempercayai ramalan-ramalan dari paranormal dan peramal tersebut. Memikirkan dan menyetujui ramalan tersebut adalah sesuatu yg terhitung sia-sia belaka dan bisa menjerumuskan kepada kesesatan.